Makalah Model-model Konsep Kurikulum
MAKALAH
“MODEL-MODEL KONSEP KURIKULUM”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum
Dosen Pengampu: Dr.H. Nawawi, M.Pd
Disusun oleh :
KELOMPOK: 3
Rina Sri Devi (NIM:1808101085)
Sabila Yusria Amalia (NIM:1808101087)
Dede Aris Ristiawan (NIM:1808101090)
Diana Ningsih (NIM:1808101120)
Kelas PAI C/4
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SYEKH NURJATI CIREBON
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Model-Model Konsep Kurikulum.
Sholawat serta salam semoga semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang tetap setia berpegang teguh kepada ajaran Agama-Nya yakni Agama Islam.
Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang bersangkutan dalam pembuatan makalah ini.Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.
Penulis menyadari, bahwa makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu penulis sangat membutuhkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk memperbaiki kesalahan agar selanjutnya bisa lebih baik.
Cirebon, April 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Masalah 1
BAB I1 PEMBAHASAN
A. Pengertian Model-Model Konsep Kurikulum 2
B. Model-Model Konsep Kurikulum 2
Kurikulum Subjek Akademik 2
Kurikulum Humanistik 7
Kurikulum Rekontruksi Sosial 12
Kurikulum Berbasis Kompetensi 15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 22
B. Saran 22
DAFTAR PUSTAKA 23
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan dibutuhkan yang namanya kurikulum yang dapat membantu dalam dipakai oleh pemerintah dalam mencapai cita-cita bangsa yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi penerus bangsa yang berakhlaq serta bertbudi pekerti luhur.
Hal ini perlu adanya kerjasama antara pemerintah pusat, administrator, kepala kantor wilayah pendidikan, kebudayaan, serta peranan guru dalam pendidikan.Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum tidak hanya berdasarkan atas kelebihan dan kenaikan-kebaikan serta mencapaian yang optimal, melainkan harus disesuaikan dengan sistem pendidikan yang dianut serta konsep pendidikan yang digunakan.
Model konsep muncul sebagai implikasi dan adanya berbagai aliran dalam pendidikan.Model konsep kurikulum sangat berkaitan dengan aliran pendidikan yang diantut. Setiap aliran pendidikan bertitik tolak dari asumsi yang berbeda seperti tujuan, isi, proses dan evaluasi. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan membahas tentang model-model konsep kurikulum.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis akan merumuskan makalah sebagai berikut:
Apa pengertian Model Konsep Kurikulum?
Bagaimana Model-Model konsep kurikulum ?
Tujuan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis akan merumuskan makalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui pengertian Model Konsep Kurikulum?
Untuk mengetahui Model-Model konsep kurikulum ?
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Model Konsep Kurikulum
Model adalah konstruksi yang bersifat teoritis dari konsep.Model adalah anstarksi dunia nyata atau refresentasi pristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan refresentasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu sarana untuk mempermudah berkomunikasi, atau sebagai petunjuk yang bersifat respektif untuk mengambil keputusan, atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan.
Nadler (1988) model yang baik merupakan model yang dapat menolong si pengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh. Menurut KBBI model adalah pola, contoh, acuan, ragam dari sesuatu yang dihasilkan. Model dikaitkan dengan pengembangan kurikulum ialah suatu pola, contoh dari suatu bentuk kurikulum yang akan menjadi acuan pelaksanaan pendidikan atau pembelajaran.
Kurikulum merupakan seperangkat susunan rencana kegiatan pendidikan mengenai tujuan, pokok, isi, bahan metode, dan strategi pembelajaran sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan proses pembelajaran.
Jadi dapat disimpulkan model konsep kurikulum merupakan dasar untuk pengembangan kurikulum atau dengan kata lain pendekatan pengembangan kurikulum didasarkan atas konsep-konsep kurikulum yang ada.
Model-Model Konsep Kurikulum
Kurikulum Subjek Akademis
Model kurikulum ini adalah model kurikulum tertua, sejak sekolah yang pertama berdiri di sekolah. Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha menguasai ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Dan orang yang berhasil adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau disiapkan oleh guru. Kedudukan guru sangat penting sebagai expert dan model.
Kurikulum ini sangat mengutamakan pengetahuan, maka pendidikannya lebih bersifat intelektual.nama-nama mata pelajaran yang menjadi isi kurikulum hampir sama dengan nama disiplin ilmu seperti ilmu bahasa dan sastra, geografi, matematika dan lain sebagainya.
Tujuan kurikulum subjek akademik adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para peserta didik menggunakan ide-ide dan proses penelitian. Dengan berpengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, para peserta didik diharapkan memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas.
Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yamg disampaikan, dalam perkembangannya secara berangsur memperhatiakan proses belajar yang dilakukan siswa. Proses belajar yang dipilih sangat beruntung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut.
Kurikulum subjek akademik ini menekankan isi, isi kurikulum merupakan kemampuan dari bahan ajar atau rencana pembelajaran. Tingkat pencapaian atau penguasaan peserta didik terhadap materi merupakan ukuran utama dalam menilai keberhasilan belajar siswa, oleh karena itu oenguasaan materi sebanyak-banyaknya merupakan salah satu hal yang diprioritaskan dalam kegiatan belajar mengajar oleh guru yang menggunakan kurikulum ini.
Kurikulum subjek akademis ini mengalami perkembangan menjadi 3 struktur disiplin yaitu:
Aliran yang melanjutkan disiplin struktur. Aliran ini menunjukkan proses penelitian ilmiah, baik masalah sosial, nilai-nilai kebijaksanaan tokok-tokok pemerintah.
Pelajaran terpadu. Dalam memahami masalah yang kompleks, aliran ini menggunakan beberapa disiplin ilmu yang terpadu. Oleh karena itu pendekatannya adalah interdisipliner.
Pendidikan fundamental. Aliran ini mementingkan isi dan materi, di samping cara cara dan proses berpikir.
Sekurang-kurangnya ada 3 pendekatan dalam perkembangan kurikulum subjek akademis, yaitu:
Melanjutkan pendekatan struktur pengetahuan. Peserta didik belajar bagaimana memperoleh dan menguji fakta-fakta dan bukan hanya sekedar mengingat.
Studi yang bersifat integratif. Pendekatan ini merupakan respon terhadap perkembangan masyarakat yang menuntut model-model pengetahuan yang lebih komprehensif-terpadu. Pelajaran tersusun atas satuan-satuan pelajaran, dalam satuan satuan pelajaran tersebut batas-batas ilmu menjadi hilang. Pengorganisasian tema-tema pengajaran didasarkan atas fenomena-fenomena alam, proses kerja ilmiah dan problem-problem yang ada.
Pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamental. Mereka tetap mengajar berdasarkan mata pelajaran dengan menekankan membaca, menulis dan memecahkan masalah-masalah sistematis. Pelajaran-pelajaran lain seperti ilmu kealaman, ilmu sosial, dan lain-lain di pelajari yg tanpa di hubungkan dengan kebutuhan praktis pemecah masalah dalam kehidupan.
Ditinjau dari kerangka dasar kurikulum, konsep kurikulum subjek akademis, memiliki karakteristik tertentu antara lain :
Tujuan, yaitu mengembangkan kemampuan intelektual anak melalui penguasaan disiplin ilmu.
Isi/materi yaitu mengambil dari beberapa disiplin ilmu yang telah disusun oleh para ahli, kemudian direorganisasi sesuai kebutuhan pendidikan. Organisasi materi yang digunakan adalah unifled atau concentratel, integratel, correlated, dan probem solving.
Metode, yaitu menggunakan metode ekspositori, inkuiri-diskoveri dan pemecah masalah.
Evaluasi, yaitu menggunakan jenis dan bentuk evaluasi yang berpariasi, seperti formatif dan sumatif, tes, dan nontes. Evaluasi lebih mengutamakan hasil sesuai dengan kriteria pencapaian.
Ada beberapa pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis. Pola-pola organisasi yang terpenting di antaranya:
Correlated Currikulum. Kurikulum ini menekankan pentingnya hubungan antara organisasi materi atau konsep yang dipelajari dari satu pelajaran dengan pelajaran yang lain, tanpa menghilangkan perbedaan esensia dari setiap mata pelajaran.
Unifled atau Concentrated Currikulum. Sesuai dengan namanya, kurikulum jenis ini sangat kental dengan disiplin ilmu. Setiap disiplin ilmu dibangun dari berbagai tema pelajaran. Pola organisasi bahan dalam suatu pelajaran disusun dalam tema-tema dalam pelajaran tertentu. Salah satu aplikasi kurikulum saat ini terdapat pada pembelajaran yang sifatnya tematik titik dari satu tema yang diajukan misalnya " lingkungan "selanjutnya dikaji dari berbagai ilmu disiplin misalnya, sains, matematika, sosial dan bahasa.
Integrated Currikulum. Pola organisasi kurikulum ini memperhatikan warna disiplin ilmu. Bahan ajar diintegrasikan menjadi suatu keseluruhan yang disajikan dalam bentuk suatu unit. Dalam suatu unit terdapat hubungan antara pelajaran serta berbagai kegiatan siswa. Dengan keterpaduan bahan pelajaran tersebut diharapkan siswa mempunyai pemahaman materi secara utuh. Oleh karena itu, inti yang diajarkan kepada siswa harus memahami kebutuhan hidup di lingkungan masyarakat.
Problem Solving Currikulum. Hal ini berisi tentang pemecahan masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pengetahuan serta keterampilan dari berbagai disiplin ilmu. Pada kurikulum metode ini guru cenderung dimaknai sebagai seseorang yang harus "di gugu" dan "ditiru".
Berdasarkan uraian tersebut tujuan dan sifat mata pelajaran merupakan dua hal yang mempengaruhi metode evaluasi kurikulum subjek akademis.Ilmu yang termasuk kategori ilmu-ilmu alam mempunyai model evaluasi yang berbeda dengan ilmu-ilmu sosial.Kurikulum ini bersumber pada pendidikan klasik.Konsep pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya yaitu, pengetahuan, ide-ide, atau nilai-nilai telah ditentukan oleh para pemikir terdahulu.
Pendidikan berfungsi untuk memelihara, mengawetkan, dan meneruskan budaya tersebut kepada generasi berikutnya, sehingga kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan.Oleh karena kurikulum ini lebih bersifat intelektual.
Kelemahan dari kurikulum subjek akademis ini adalah:
Terlalu menonjolkan dominan kognitif-akademi sehingga domain afektif, psikomotor, sosial, emosional menjadi keterabaikan.
Konsep yang dikembangkan oleh para ahli belum tentu sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
Tidak semua peserta didik dapat memahami dan menggunakan metode ilmiah untuk mempelajari disiplin ilmu.
Tidak semua anak akan menjadi ilmuan professional
Guru tidak atau jarang terlibat dalam penelitian karena tidak menguasai metode ilmiah (scientific method).
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan di atas dalam perkembangan selanjutnya dilakukan beberapa penyempurnaan, yaitu sebagai berikut:
Untuk mengimbangi penekanannya pada proses berfikir, mereka mulai mendorong penggunaan intuisi daan tebakan-tebakan.
Adanya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individu dan kebutuhan setempat.
Pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada masyarakat.
Dengan adanya kelemahan serta solusi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diatas, penulis mengharapkan agar konsep kurikulum ini dapat lebih baik lagi.
Kurikulum Humanistik
Munculnya teori pendidikan empiristik merupakan cikal bakal dari munculnya pendidikan humanis yang kemudian diikuti dengan kemunculan kurikulum humanistik, hal ini dikarenakan sama – sama mengakui bahwa dalam setiap diri manusia terdapat potensi, dan potensi itulah yang akan dikembangkan melalui pendidikan.
Pendidikan humanistik merupakan model pendidikan yang berorientasi dan memandang manusia sebagai manusia (humanisasi), yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrahnya. Maka manusia sebagai makhluk hidup, ia harus mampu melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidupnya. Maka posisi pendidikan dapat membangun proses humanisasi, artinya menghargai hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak untuk menyuarakan kebenaran, hak untuk berbuat kasih sayang, dan lain sebagainya.
Pendidikan humanistik, diharapkan dapat mengembalikan peran dan fungsi manusia yaitu mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai sebaik-baik makhluk (khairu ummah). Maka, manusia “yang manusiawi” yang dihasilkan oleh pendidikan yang humanistik diharapkan dapat mengembangkan dan membentuk manusia berpkir, berasa dan berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang dapat mengganti sifat individualistik, egoistik, egosentrik dengan sifat kasih sayang kepada sesama manusia, sifat menghormati dan dihormati, sifat ingin memberi dan menerima, sifat saling menolong, sifat ingin mencari kesamaan, sifat menghargai hak-hak asasi manusia, sifat menghargai perbedaan dan sebagainya.
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa kurikulum humanistik berawal dari aliran pendidikan empiristik kemudian lahirlah pendidikan humanis dan lahir pula kurikulum humanistik, sehingga kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanis, yang mana kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi ( Personalized Education ) yaitu Jhon Dewey ( Progressive Education ) dan J.J. Rousseau ( Romantic Education ) . Yang mana aliran ini lebih memberikan tempat kepada siswa, artinya bahwa aliran ini beranggapan bahwa manusia adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan, manusia adalah subyek sekaligus obyek dalam pendidikan, dan juga manusia memiliki potensi , kekuatan dan kemampuan dalam dirinya bukan seperti yang dikatakan oleh para nativistik bahwa manusia tak ubahnya gelas kosong yang harus diisi oleh guru, para humanis juga menganggap bahwa manusia atau individu merupakan suatu kesatuan yang utuh dan menyeluruh ( gestalt), sehingga berangkat dari sini, pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan saja segi fisik dan inteletual tetapi juga segi sosial dan afektif . Sehingga dalam pendidikan humanistik meniscayakan akan terbangunnya suasana yang rileks, permissive, dan akrab, sehingga siswa dapat mengembangkan segala potensi yang ada dalam dirinya.
Menurut para humanis, kurikulum berfungsi menyediakan pengalaman (pengetahuan) berharga untuk membantu memperlancar perkembangan pribadi murid. Tujuan pendidikan adalah proses perkembangan pribadi yang dinamis dan diarahkan pada pertumbuhan, integritas, dan otonomi kepribadian, sikap yang sehat terhadap diri sendiri, orang lain dan belajar. kurikulum humanistik dipercayai sebagai fungsi kurikulum yang memberikan pengalaman kepada siswa untuk menunjang secara intrinsik tercapainya perkembangan dan kemerdekaan pribadi. Mereka memandang bahwa tujuan pendidikan sebagai proses perkembangan pribadi yang dinamis dan diarahkan kepada pertumbuhan, integrasi, otonomi kepribadian, sikap sehat kepada diri sendiri,orang lain dan belajar.
Konsep kurikulum humanistik memandang kurikulum sebagai alat untuk mngembangkan diri setiap individu siswa.Siswa diberi kesempatan untuk mewujudkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.Setiap individu pun mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi muali dari yang mendasar menuju yang lebih tinggi. Konsep ini melahirkan bentuk kurikulum yang berpusat pada anak didik atau child centered curriculum .Setiap siswa berkesempatan untuk belajar sesuai minat dan kebutuhannya masing-masing.Substansinya berupa rencana belajar yang disusun bersama antara anak didik dan guru.Adapun tujuan kurikulum humanistik menekankan pada segi perkembangan pribadi, integrasi dan otonomi individu.Tujuan ini dipanang dapat menjadi sarana mewujudkan diri.
Contohnya, Tugas pendidikan dalam konsep ini adalah membantu individu dalam upaya mencapai perwujudan diri melalui pengembangan potensi yang dimiliki.Oleh karena itu, kurikulum sekolah disusun dengan mengindahkan keserasian antara perkembangan pribadi dan perkembangan kognisi secara simultan.Pendidikan bukan semata-mata member tetapi menumbuhkan keberanian kepada siswa untuk melakukan sesuatu.Kebutuhan utama yang harus dipenuhi siswa adalah kebutuhan jasmaniah seperti makan, minum, dan tidur. Kebutuhan lainnya seperti kebutuhan akan rasa aman, kasih saying, atau rasa ingin diterima oleh kelompoknya, kebutuhan akan rasa dihargai dana kebutuhan perwujudan diri.
Pada kurikulum ini, guru diharapkan mengetahui respons peserta didik terhadap kegiatan mengajar. Guju juga diharapkan mengamati apa yang sudah dilakukanya, untuk melihat umpan balik setelah kegiatan belajar dilakukan. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini adalah beberapa acuan dalam kurikulum humanistic.
Integrasi semua domain afeksi peserta didik, yaitu emosi, sikap, dan nilai-nilai dengan domain kognisi, yaitu kemampuan dan pengetahuan. Agar integrtasi tersebut dapat terjadi, menurut Shapiro, kurikulum harus terdiri atas berbagai elemen berikut :
Partisipasi
Integrasi, interaksi, perasaan dan kegiatan
Relevan dengan kebutuhan hidup
Pribadi
Tujuan sosial untuk membangun keutuhan pribadi dan keutuhan masyarakat
Kesadaran dan kepentingan
Respons terhadap ukuran tertentu, seperti kedalaman suatu keterampilan. Oleh karena itu kurikulum humanistic perlu mempertimbangkan motivasi untuk mencapai hasil dan minat peserta didik.
Kurikulum Humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik.Kurikulum ini berdasakan konsep aliran-aliran pendidikan pribadi yaitu john Dewey (pendidikan progresif) dan J.J Reuseau (pendidikan romantis).Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada anak didik.Mereka bertolak dari asumsi bahwa anak didik adalah anak pertama dan utama dalam pendidikan.Anak didik adalah subjek yang menjadi pusat kegiatan utama dalam pendidikan, mereka percaya bahwa anak didik mempunyai potensi, kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang.Para pendidik humanis juga berpegang pada konsep gestalt, bahwa individu atau anak merupakan satu jesatuan yang menyeluruh. Pendidikan diarahkan pada membina manusia yang utuh bukan saja dari segi fisik dan intelektual juga dari segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, nilai, dan lain sebagainya ).
Pandangan mereka berkembang sebagai reaksi terhadap pendidikan yang lebih menekankan segi intelektual dengan peran utama di pegang oleh pendidik.Pendidikan humanistik menekankan peran anak didik.Pendidikan merupakan suatu upaya untu menciptakan situasi yang permisif, rileks, dan akrab.Berkat situasi tersebut anak mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.
Pendidikan mereka lebih menekankan bagaimana mengajar anak didik (mendorongnya) dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu. Tugas pendidik adalah menciptakan situasi yang permisif dan mendorong anak didik untuk mencari mengembangkan pemecahan sendiri, tujuan pengajaran adalah memperluas kesadan diri sendiri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan. Evaluasi kurikulum humanistik lebih memberi penekanan pada proses yang dilakukan. Pendekatan kurikulum humanistik melihat kegiatan sebagai sebuah manfaat untuk anak didik di masa depannya. Namun disamping itu juga pendekatan humanistik dalam pengembangan kurikulum bertolak dari ide memanusiakan manusia.
Sebagai suatu hal yang alamiah, kurikulum humanistic memiliki beberapa kelemahan, seperti :
Keterlibatan emosional tidak selamanya berdampak positif bagi perkembangan individual peserta didik
Meskipun kurikulum ini sangat menekankan individu peserta didik, pada kenyataanya setiap program terdapat keseragaman peserta didik.
Kurikulum ini kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan
Dalam kurikulum ini, prinsip-prinsip psikologis ada yang kurang terhubungkan.
Kurikulum Kontruksi Sosial.
Kurikulum rekonstruksi sosial merupakan model kurikulum yang lebih memusatkan perhatian pada problem-problem yang di hadapi dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional.Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri melainkan kegiatan bersama, kerjasama dan interaksi.
Tujuan utama kurikulum jenis ini adalah mempersiapkan peserta didik untuk dapat menghadapi tantangan, termasuk di dalamnya ancaman dan hambatan. Tantangan dianggap sebagai bidang garapan salah satu disiplin ilmu, namun perlu juga di dekati dengan ilmu-ilmu lain. Pandangan kontruksi sosial di dalam kurikulum dimulai sekitar tahun 1920-an. Harold rug mulai melihat dan meyadarkan kawan-kawannya bahwa selama ini terjadi kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat.Ia menginginkan para siswa dengan pengetahuan dan konsep–konsep baru yang di prolehnya dapat mengidentifikasi dan masalah-masalah sosial.
Theodore brameld, pada awal tahun 1950-an menyampaikan gagasannya tentang rekontruksi sosial. Dalam masyarakat demokratis, seluruh warga masyarakat harus turut serta dalam perkembangan dana pembaharuan masyarakat. Untuk melaksanakan hal itu sekolah mempunyai posisi yang cukup penting.Sekolah bukan saja dapat membantu individu berpartisipasi sebaik baiknya dalam kegiatan sosial.
Para rekontruksionis sosial tidak mau terlalu menekannkan kebebasan individu.Mereka ingin meyakinkan murid-murid bagaimana masyarakat membuat warganya seperti yang ada sekarang dan bagaimana masyarakt memnuhi kebutuhan pribadai warganya melalui konsensus soasial.
Desain Kurikulum Kontruksi Sosial
Ada beberapa ciri dari desain kurikulum ini, yaitu :
Asumsi. Tujuan utama kurikulum kontruksi sosial adalah menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang di hadapi manusia. Tantangan-tantangan tersebut merupakan bidang garapan studi sosial, yang perlu didekati dari bidang-bidang lain seperti ekonomi, sosiologi, psikologi, estetika, bahkan pengetahuan alam dan metetika.
Masalah-masalah yang mendesak. Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak. Masalah-masalah tersebut di rumuskan dalam pertanyaan, seperti : dapatkah kehidupan seperti sekarang ini memberikan kekuatan untuk menghadapi ancaman-ancaman yang akan mengganggu integritas kemanusian? Dapatkah tata ekonomi dan politik yang ada di bangun kembali agar setiap orang dapat memanfaatkan sumber daya manusia seadil mungkin.
Pola-pola organisasi. Pada tingkat sekolah menegah, pola organisasi kurikulum disusun seperti sebuah roda. Ditengah-tengahnya sebagai poros dipilih sesuatu masalah yang menjadi tema utama dan dibahas.
Komponen-komponen Kurikulum Kontruksi Sosial
Kurikulum ini memiliki komponen-komponen yang sama dengan model kurikulum lain tetapi isi da bentuk-bentuknya berbeda.
Tujuan dan isi kurikulum
Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah.Dalam program pendidikan ekonomi-politik, umpanya untuk tahun pertama tujuannya membangun kembali dunia ekonomi-politik. Adapun kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebuat adalah sebagai berikut :
Mengadakan survei secara kritis terhadap masyarakat
Mengadakan studi tetang hubungan antara keadaan ekonomi lokal dan nasianal dan dunia
Mengadakan studi tentang latar belakang historis dan kecendrungan-kecendrungan perkembangan ekonomi
Mengkaji praktik politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi
Memantapkan rencana perubahan praktik politik.
Mengevaluasi semua rencana dengan kriteria, apakah telah memenuhi kepentingan sebagian besar orang.
Metode
Dalam pengajaran kontruksi sosial para pengembang kurikulum berusaha mencari keselarasan antara tujuan-tujuan nasional dengan tujuan siswa.guru-guru berusaha membantu para siswa dalam menemukan minat dan kebutuhannya.
Evaluasi
Dalam kegiatan evaluasi para siswa juga di libatkan. Keterlibatan mereka terutama dalam memilih, menysusun, dan menilai bahan yang akan di ujiakan.evaluasi tidak hanya menilai apa yang telah di kuasia oleh siswa, tetapi juga menilai pengaruh kegiatan sekolah terhadap masyarakat.pengaruh tersebut terutama menyangkut perkembangan masyarakat dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat.
Pelaksanaan Pengajaran Kurikulum Kontruksi Sosial
Pengajaran rekontruksi sosial banyak dilaksanakan di daerah-darah yang tergolong belum maju dan tingkat ekonominya juga belum tinggi. Pelaksanaan pengajaran ini di arahkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan mereka. Sesuai dengan potensi yang ada dalam masyarakat, sekolah mempelajari hal-hal tersebut, dengan bantuan biaya dari pemerintah sekolah berusaha mgembangkan potensi tersebut.
Salah satu badan yang banyak mengembangkan baik teori maupun praktik pengajaran kontruksi sosial adalah paulo freize. Mereka banyak membantu mengembangkan daerah-daerah amerika latin. Untuk memerangi kebodohan dan keterbelakanga mereka menggerakkan budaya akal budi (conscientization).
Sekolah berusaha memberikan penerangan dan melatih kemampuan untuk melihat dan mengatasi hambatan-hambatan yang di hadapi.Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang di hadapi.degan gerakan conscientization mereka membantu masyarakat dalam memahami fakta-fakta dan masalah-masallah yang di hadapinya dalam konteks kondisi masyarakat mereka.Keterbatasan dan potensi yang mereka miliki.Bertolak dari keyataan-kenyataan tersebut mereka membina diri dan membangun masyarakat.
Para ahli kurikulum yang berorientasi dimasa deepan menyarankan agar isi kurikulum di fokuskan pada : penggalian sumber-sumber alam dan bukan alam, populasi, kesejahteraan masyarakat, masalah air, akibat pertumbuhan penduduk, ketidakseragaman pemanfataan sumber-sumber alam dan lain-lain.
Pandangan rekontruksi sosial berkembang karena keyakinan pada kemampuan manusia untuk membangun dunia lebih baik.Juga penenkanannya tentang peranan ilmu dalam memecahkan masalah-masalah sosial.Beberapa kritikus pendidikan menilai pandangan ini sukar diterapkan langsung dalam kurikulum (pendidikan).Penyebabnya adalah interpretasi para ahli tentang perkembangan dan masalah-masalah sosial berbeda. Kemampuan warga untuk ikut serta dalam pemecahan masalah juga bervariasi.
Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kurikulum berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu Curir yang artinya pelari, dan Curere yang artinya tempat berpacu. Kurikulum juga diartikan jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Maksudnya adalah kurikulum dalam pendidikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijazah. Implementasi kurikulum di dalam negeri mengalami beberapa kali perubahan, perbaikan dan penyempurnaan demi tercapainya tujuan pendidikan nasional. Salah satunya adalah pengembangan kurikulum berbasis kompetensi.
Finch dan Crunkilton , mendefinisikan kompetensi yaitu: “competencies for vocational and technical education are those tasks, skills, attitudes, values, and appreciations that are deemed critical to successful employment ” yang dapat diartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Berdasarkan definisi tersebut kompetensi meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat mendukung keberhasilan dalam melakukan pekerjaan dalam mencapai kompetensi lulusan yangdiperlukan kurikulum.
Dari definisi tersebut kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan. Sedangkan berdasarkan SK Mendiknas nomor 045/U/2002, menyatakan bahwa kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Kurikulum berbasis kompetensi menekankan pada mengeksplorasi kemampuan atau potensi peserta didik secara optimal, membangun apa yang dipelajari dan mengupayakan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kurikulum berbasis kompetensi terdapat upaya mengkondisikan setiap peserta didik agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang dimaksud dengan KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan, mengenai tujuan, isi, dan juga bahan pelajaran yang bisa mengantarkan para peserta didik dalam memiliki kompetensi di berbagai bidang kehidupan. Dan cara penyampaiannya disesuaikan dengan keadaan serta kemampuan daerah dan juga madrasah, atau sekolah.
Menurut Depdiknas (2002) sebagaimana dikutip Sholeh Hidayat bahwa Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
Penyampaian pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dinamis. Hal ini berarti bahwa kurikulum harus selalu dikembangkan dan disempurnakan agar sesuai dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta masyarakat yang sedang membangun. Pendidikan berbasis kompetensi adalah bentuk pendidikan yang diselenggarakan untuk menyiapkan lulusannya menguasai seperangkat kompetensi yang bermanfaat bagi kehidupannya kelak.
Pembangunan kurikulum harus didasarkan pada prinsipprinsip pengembangan yang berlaku. Hal ini dimaksud agar hasil pengembangan kurikulum tersebut sesuai dengan minat, bakat, kebutuhan peserta didik, lingkungan, kebutuhan daerah sehingga dapat memperlancar pelaksanaan proses pendidikan dalam rangka perwujudan atau pencapaian tujuan pendidikan nasional.
KBK adalah pengembangan kurikulum yang bertitik tolak dari kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh siswa setelah menyelesaikan pendidikan, kompetensi itu meliputi pengetahuan-pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak
Dalam pengembangannya KBK memperhatikan berbagai prinsip, yaitu:
Keimanan, Nilai, dan Budi Pekerti Luhur. Keimanan, nilainilai dan budi pekerti luhur yang dianut dan dijunjung tinggi masyarakat sangat berpengaruh terhadap sikap dan arti kehidupannya. Oleh karena itu hal tersebut perlu digali, dipahami, dan diamalkan oleh peserta didik melalui pengembangan kurikulum berbasis kompetensi.
Pengetahuan Integritas Nasional. Pengembangan KBK harus memperhatikan penguatan integritas nasional melalui pendidikan yang memberikan pemahaman tentang masyarakat Indonesia yang majemuk dan kemajemukan peradaban dalam tatanan kehidupan dunia yang multikultural dan multi bahasa. Keseimbangan etika, logika, estetika dan kinestetika Pengembangan.
KBK perlu memperhatikan keseimbangan pengalaman belajar peserta didik antara etika, logika, estetika dan kinestetika.
Kesamaan memperoleh kesempatan. Pengembangan KBK harus menyediakan tempat yang memberdayakan semua peserta didik untuk memperoleh pengetahuan ketrampilan dan sikap perlu diutamakan dalam pengembangan kurikulum.
Abad pengetahuan dan teknologi Informasi. Kurikulum perlu mengembangkan berfikir dan belajar dengan mengakses, memilih dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan penuh ketidak pastian yang merupakan kompetensi penting dalam menghadapi abad ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
Pengembangan ketrampilan untuk hidup. Pengembangan KBK perlu memasukkan unsure ketrampilan untuk hidup agar peserta didik memiliki ketrampilan, sikap dan perilaku adaptif, kooperatif dan kompetitif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara efektif.
Belajar sepanjang hayat. Pendidikan berlangsung sepanjang hidup manusia untuk mengembangkan, menambah kesadaran dan selalu belajar memahami dunia yang selalu berubah dalam berbagai bidang.
Berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komprehensif. Pengembangan KBK harus berupaya memandirikan peserta didik untuk belajar, bekerja sama dan menilai diri sendiri agar mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya.
Pendekatan menyeluruh dan kemitraan. Pengembangan KBK harus mempertimbangkan semua pengalaman belajar yang dirancang secara berkesinambungan mulai TK dan RA sampai dengan kelas XII.
Dalam mengembangkan kurikulum tentunya harus memperhatikan beberapa prinsip, begitu juga dengan kurikulum berbasis kompetensi yang memiliki beberapa prinsip sebagaimana tersebut diatas, hal itu dimaksud agar dalam pelaksanaan kurikulum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Tujuan dari dibentuknya kurikulum yang berbasis kompetensi ini adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik untuk menghadapi perannya dimasa datang dengan mengembangkan sejumlah kecakapan hidup (life skill).Yang dimaksud dengan kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
Karaktersitiik Kurikulum Berbasis Kompetensi
KBK merupakan kurikulum yang menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi tertentu di sekolah, yang berkaitan dengan pekerjaan yang ada dimasyarakat. Sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.
Kurikulum yang berbasis kompetensi ini memberikan keleluasaan kepada lembaga Sekolah untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. Dengan demikian sekolah diharapkan dapat melakukan proses pembelajaran yang efektif, dapat mencapai tujuan yang diharapkan, materi yang diajarkan relevan dengan kebutuhan masyarakat, berorientasi pada hasil (Output), dan dampak (Outcome), serta melakukan penilaian, pengawasan, dan pemantauan secara terus dan berkelanjutan.
Kurikulum tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut:
Menekankan kompetensi siswa, bukan tuntasnya materi
Kurikulum dapat diperluas, diperdalam, dan disesuaikan dengan potensi siswa.
Berpusat pada siswa
Orientasi pada proses dan hasil.
Pendekatan dan metode yang digunakan beragam dan bersifat kontekstual.
Guru bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, (siswa dapat belajar dari apa saja).
Buku pelajaran bukan satu-satunya sumber belajar.
Belajar sepanjang hayat: (1) Belajar mengetahui (Learning how to know) (2) Belajar melakukan (Learning how to do) (3) Belajar menjadi diri sendiri (Learning how to be) (4) Belajar hidup dalam keberagaman (Learning how to live together)
Di samping itu, KBK sebagai sebuah kurikulum memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, KBK memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa. Artinya melalui KBK diharapkan siswa memiliki kemampuan standar minimal yang harus dikuasai. Kedua, implementasi pembelajaran dalam KBK menekankan pada proses pengalaman dengan memperhatikan keberagaman setiap individu. Dalam pembelajaran tidak sekedar diarahkan untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana materi itu dapat menunjang dan mempengaruhi kemampuan berfikir dan kemampuan bertindak sehari-hari. Ketiga, evaluasi dalam KBK menekankan pada evaluasi hasil dan proses belajar. Kedua sisi evaluasi itu sama pentingnya sehingga pencapaian standar kompetensi dilakukan secara utuh yang tidak hanya mengukur aspek pengetahuan saja, tetapi sikap dan keterampilan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Model konsep kurikulum merupakan dasar untuk pengembangan kurikulum atau dengan kata lain pendekatan pengembangan kurikulum didasarkan atas konsep-konsep kurikulum yang ada. Model kurikulum meliputi Kurikulum Subjek Akademis, Kurikulum Humanistik, KurikulumRekonstruksi Sosial dan kurikulum berbasis kompetensi.
Kurikulum subjek akademis memandang kurikulum sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual.Kurikulum humanistik memandang kurikulum sebagai alat untuk mengembangkan pribadi individu sehingga kurikulum ini berpusat pada anak didik.Kurikulum rekontruksi sosial memandang kurikulum sebagai alat untuk menata kehidupan masyarakat kea rah lebih baik. Dan kurikulum berbasis kompetensi menekankan pada mengeksplorasi kemampuan atau potensi peserta didik secara optimal.
Saran
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan menambah wawasan keilmuan mengenai model-model konsep kurikulum ini.
DAFTAR PUSTAKA
Alhamuddin. 2019. Politik Kebijakan Pengembangan Kurikulum di Indonesia. Jakarta: Prenadamedia Group.
Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan Kurikurum. Bandung,: PT Remaja Rosdakarya.
Humalik, Oemar. 2017Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nurdin, Syarifudin. 2005. Pembelajaran kurikulum Berbasis Kompetensi. Jogjakarta: Quantum Teaching.
Subandijah. 1996. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: Raja Grafindo
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2015.Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.Bandung: PT Rosdakarya.
Komentar
Posting Komentar